Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan
Cerita kecil Deus Caritas Est yang terbit pada Kamis, 29 Januari 2026 di Media Indonesia.
Populasi penyandang disabilitas secara global mencapai 15% dari warga dunia, rasio serupa juga terjadi di Indonesia. Media Indonesia menampilkan sosok-sosok serta para pegiat penyandang disabilitas setiap Jumat untuk mendukung akses kesetaraan, sekaligus menyebarkan inspirasi dari kisah mereka.
Nunuy Nurhayati


Komunitas Deus Caritas Est membuktikan penyandang disabilitas dapat berkontribusi setara.
Buku Disablepreneur dapat menjadi model replikasi gerakan pemberdayaan disabilitas.
Para perajin didorong lebih mandiri, berkembang menjadi unit-unit produksi.
Nunuy Nurhayati
Anita Prajitno, pendiri Deus Caritas Est (DCE).
Di kawasan La Riviera Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Kecamatan Kosambi, Tangerang, Banten, terdapat sebuah tempat wisata religi, terutama bagi umat Katolik. Diresmikan pada Mei 2023 lalu, tempat ini memberikan ruang bagi pengunjung untuk berdoa, bermeditasi, atau sekadar menikmati suasana taman yang hijau di tengah hiruk pikuk kota.
Namanya Taman Doa Hati Tersuci Maria. Taman ini didesain mengikuti alur prosesi ibadah Jalan Salib. Termasuk 14 ukiran yang ada di setiap pemberhentiannya, yang menceritakan kisah perjalanan Yesus menuju penyaliban mengikuti rute tradisional Via Dolorosa di Yerusalem.
Di taman yang tak jauh dari lokasi wisata lain di PIK 2, Kota Belanda, umat Katolik juga dapat melakukan adorasi atau doa bersama dengan persembahan bunga dan lilin di patung Yesus Kristus dan Bunda Maria.
Yang menarik, di taman ini ada sebuah toko yang menyediakan perlengkapan doa dan cendera mata, mulai dari rosario, tote bag, mantila (kerudung untuk berdoa), pernak-pernik rajut, dan berbagai kerajinan tangan lainnya. Semua produk tersebut merupakan hasil kerajinan tangan teman-teman disabilitas dari komunitas Deus Caritas Est (DCE).
“Toko ini dikelola teman-teman DCE. Produk, mereka yang buat. Kasir hingga penjaga toko juga teman-teman disabilitas DCE,” ujar Anita Prajitno, pendiri DCE.
Tidak mengherankan bila di bagian depan toko terdapat papan Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) sebagai media edukasi visual yang menampilkan isyarat abjad, angka, atau kosakata sehari-hari. Media itu untuk mempermudah belajar berkomunikasi dengan Teman Tuli.
“Inilah uniknya, jadi kami juga memberikan sosialisasi kepada mereka yang datang ke toko. Mereka bisa merasakan pengalaman mengenal dan berinteraksi dengan teman-teman disabilitas ini,” jelas Anita yang setia mendampingi teman-teman disabilitas di DCE sejak sepuluh tahun lalu.
Jakarta / Kamis, 29 Januari 2026
Tularkan Semangat Pemberdayaan
Toko di Taman Doa Hati Tersuci Maria merupakan bagian dari perjalanan satu dekade DCE memberdayakan penyandang disabilitas dan kelompok rentan melalui karya, pelatihan, dan kolaborasi sosial.
Di lokasi itu pula, pada Sabtu, 17 Januari 2026, DCE merayakan satu dekade perjalanan mereka dengan beragam kegiatan. Mulai dari misa selebrasi, pemotongan tumpeng, hingga workshop bersama perajin disabilitas DCE.
Perayaan 10 Tahun Deus Caritas Est diselenggarakan sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan DCE. Acara tersebut sekaligus menjadi momentum memasuki fase baru melalui pengukuhan Yayasan Deus Caritas Eterna agar karya kemanusiaan ini dapat berkelanjutan dan terus direplikasi.
Di hari ulang tahun itu, DCE juga meluncurkan buku berjudul Disablepreneur. Buku yang ditulis oleh Karel Tuhehay ini diharapkan bisa menjadi model replikasi gerakan pemberdayaan disabilitas.
“Buku ini diharapkan bisa menggerakkan banyak orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan DCE, karena di luar sana masih banyak disabilitas yang perlu dirangkul, sementara kemampuan kami di sini terbatas,” kata Anita.
Berkarya Secara Mandiri
Terbentuk pada 17 Januari 2016, DCE awalnya hanya menghimpun beberapa perajin disabilitas. Pendirian DCE berawal dari inisiatif pribadi Anita yang tergerak membantu teman-teman disabilitas. Panggilan itu muncul ketika ia mengikuti misa di Gereja Stella Maris. Di sana tampak teman-teman netra yang tergabung dalam Laetitia Choir, paduan suara binaan Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta.
“Saya lalu menghubungi nomor kontak yang ada di brosur, saya sampaikan saya ingin membantu teman-teman disabilitas,” cerita Anita.
Bermula dari sekadar bantuan konsumsi untuk kegiatan LDD, Anita kemudian mulai memberikan pendampingan kepada teman-teman netra. “Saya juga belajar membaca huruf Braille,” ujarnya.
Selanjutnya, untuk membantu mereka berkarya secara mandiri, Anita mulai membuka kelas pelatihan di LDD. Ia mengundang teman-temannya yang bisa membuat kerajinan tangan untuk mengajar. Kelas pelatihan terus berlanjut.
Anita ingin, lewat ilmu yang didapat dari kelas pelatihan itu, mereka bisa mandiri secara finansial. “Saya dorong mereka membuat karya sebagus dan semenarik mungkin untuk dijual,” ujarnya.
Bersyukur Menemukan Rumah Baru
Dalam praktiknya, Deus Caritas Est (DCE) menjalankan beragam kegiatan yang dirancang sesuai kebutuhan para anggota. Program-program tersebut mencakup pendampingan psikososial, pelatihan keterampilan, kegiatan edukatif, hingga aktivitas komunitas yang mendorong interaksi sosial yang sehat.
Ini pula yang dirasakan Azizah, penyandang disabilitas yang sehari-hari harus menggunakan kursi roda karena sejak usia tiga tahun kakinya tak berkembang sempurna gara-gara penyakit polio. Perkenalan Azizah dengan Anita Prajitno, pendiri DCE, dimulai pada 2018 lalu saat ia mengikuti pelatihan bersama teman-temannya sesama disabilitas.
Dua tahun selepas pelatihan tersebut, tidak disangka lewat telepon dia kembali dihubungi oleh pendiri DCE. “Bu Anita menawari saya untuk menjadi perajin DCE,” tutur Azizah. Tawaran itu disambut Azizah dengan senang hati. Terlebih saat itu kondisi keuangan keluarganya sedang terpuruk. Usaha jahitnya sepi pelanggan.
Begitu pun usaha sang suami yang semenjak pandemi covid-19 ikut sepi. Karena bisa menjahit, warga Cakung, Jakarta Timur, ini diminta mengirimkan hasil jahitan. “Jadi dites dulu, apakah jahitannya rapi dan sesuai keinginan ibu,” katanya.
Azizah bersyukur dia bisa lolos dan menjadi perajin. Tugasnya menjahit barang pesanan yang datang ke DCE. Mulai dari menjahit bantal, pouch (tas kecil atau kantong serbaguna), hingga selendang mantila.
“Ia tak lagi waswas dikejar-kejar pemilik kontrakan yang menagih uang sewa dengan cara tak menyenangkan. Ia juga tak perlu lagi mencari-cari pelanggan.”
“Semua harus dikerjakan dengan maksimal, harus benar-benar baik,” ujar Azizah.
Proses pengerjaan dilakukan di rumahnya. Jika jahitan belum sesuai, Azizah harus siap membongkarnya untuk dijahit ulang hingga menghasilkan jahitan yang benar-benar rapi sehingga memuaskan pelanggan.
Azizah bersyukur, kini perekonomiannya mulai membaik. Pesanan selalu ada. Penjualan melalui toko ataupun secara online terbilang lancar. Ia tak lagi waswas dikejar-kejar pemilik kontrakan yang menagih uang sewa dengan cara tak menyenangkan. Ia juga tak perlu lagi mencari-cari pelanggan.
Azizah bahkan sempat diajak bermain di film pendek berjudul Angan bersama teman-teman DCE lainnya.
“Saya benar-benar terbantu, enggak tahu bagaimana nasib saya kalau dulu tidak bertemu Bu Anita,” katanya sambil mengusap air mata mengenang kehidupannya di masa lalu. (Nuy/X-5)




Azizah sedang memberikan workshop menjahit di acara perayaan 10 tahun komunitas DCE di Taman Doa Hati Tersuci Maria, PIK 2, Jakarta.
Beberapa hasil kerajinan tangan karya para disabilitas yang tergabung di DCE.
Dokumentasi
MI/Nunuy Nurhayati
Berawal dari pesanan gelang swarovski, produk dari DCE kian beragam dan permintaan dari konsumen terus meningkat. Dalam perjalanannya, DCE mendampingi perajin dari beragam disabilitas lintas agama untuk berkarya secara mandiri, menumbuhkan profesionalitas, serta membangun kepedulian sosial.
Karya yang dihasilkan tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga sarana berbagi dan mengedukasi masyarakat luas. Dari yang awalnya hanya beberapa orang, kini DCE menghimpun 28 perajin.
Yang menggembirakan, pada 2023 DCE dipercaya oleh Dewan Paroki Gereja Regina Caeli Pantai Indah Kapuk untuk mengelola toko di Taman Doa Hati Tersuci Maria, yang dibangun oleh Agung Sedayu dan Salim Group. Selain itu, produk mereka juga dipasarkan di toko yang ada di Taman Doa Our Lady of Akita PIK 2, juga secara daring melalui Instagram @deuscaritasest_.
Sejak 2025, Anita mendorong perajin untuk lebih mandiri, berkembang menjadi unit-unit produksi. Mereka didorong untuk lebih mandiri mengelola usaha sendiri. “Jika dahulu saya membantu menyediakan bahan-bahan dan mereka tinggal menerima upah, sekarang mereka didorong untuk mengelola usaha sendiri, saya hanya memberikan bantuan modal,” terang Anita.
Tentu saja sebelumnya mereka diberikan ilmu mengelola keuangan, termasuk memperhitungkan margin keuntungan dan upah ketika menentukan harga jual.
Teman-teman disabilitas pun kini bisa membantu sesama disabilitas. Menularkan ilmu dan memberikan pekerjaan yang bisa membantu kehidupan mereka.
Dalam satu dekade perjalanan, komunitas DCE hadir terus menjadi ruang aman dan rumah bertumbuh bagi para penyandang disabilitas, memberdayakan penyandang disabilitas melalui karya dan gerakan sosial pemberdayaan. Melalui kegiatan yang berkelanjutan, DCE menempatkan disabilitas bukan sebagai hambatan, melainkan bagian dari keberagaman manusia yang perlu dihargai dan diberdayakan. (X-5)
Terus Berkembang
Artikel lain
Perjalanan Keluar dari Diri Menuju Kebebasan Memberi
Cerita refleksi oleh Romo Jacobus Tarigan, Pr setelah menyaksikan sharing komunitas Deus Caritas Est ...
Tergerak dan Bergerak, Berubah dan Berbuah
Refleksi oleh Suster Martina, HK setelah menghadiri perayaan 10 tahun DCE, 17 Januari 2026.
Mengenal DCE dan Lahirnya Buku Disablepreneur
Kisah penulis buku Disablepreneur dengan DCE menuju keterlibatan dalam penulisan buku Disablepreneur.
Deo Caritas Eterna
Melalui berbagai program pemberdayaan dan karya kreatif, Yayasan Deo Caritas Eterna berupaya membuka ruang lebih luas bagi para penyandang disabilitas untuk tumbuh, berkarya, dan hidup mandiri dengan penuh martabat sebagai wujud dari cinta yang memberi harapan.
© 2025 Deo Caritas Eterna. All rights reserved.
Temukan Produk Kami di Toko Offline
Media Sosial
Hubungi Kami






