Mengenal DCE dan Lahirnya Buku Disablepreneur

Kisah perjumpaan dengan Deus Caritas Est menuju keterlibatan dalam penulisan buku Disablepreneur.

Karel Tuhehay

Karel Tuhehay, Penulis Buku Disablepreneur, pada peluncuran Buku Disablepreneur yang dilaksanakan tepat pada ulang tahun DCE yang ke-10, 17 Januari 2026 di Taman Doa Hati Tersuci Maria, PIK 2.

Buku ini tidak sekadar merayakan kesuksesan, tetapi juga mengakui proses panjang di baliknya. Ada keraguan, keterbatasan, kegagalan, dan upaya bangkit kembali. Justru di sanalah letak kekuatan cerita-cerita ini—karena dekat dengan realitas dan mudah dipahami oleh pembaca.

Di awal Agustus 2025, saya ditelepon Ibu Anita yang adalah founder Deus Caritas Est (DCE), inti dari pembicaraan kami ditelepon saat itu adalah, Ibu Anita meminta saya untuk menulis sebuah buku yang mengangkat karya Gerakan DCE serta apa yang dapat DCE sumbangkan kepada penyandang disabilitas di Indonesia, melalui karya mereka itu. Bagi saya, menulis adalah sebuah hobi bahkan pekerjaan saya sehari-hari terutama dalam menulis proposal proyek. Namun menjadi penulis untuk sebuah buku yang “solo writer” bagi saya adalah sebuah tantangan baru yang tidak bisa dianggap remeh apalagi dengan waktu yang singkat untuk menyiapkan kerangka buku lalu kemudian menulis. Keuntungan bagi saya adalah sumber informasi untuk menulis buku ini, secara personal yaitu Ibu Anita, saya sudah kenal sejak tahun 2011, sehingga mudah bagi saya untuk mendapatkan bahan baku dalam menulis.

DCE ditelinga saya, memang sudah tidak asing karena ketika terjadi Covid-19, saya kembali dipertemukan dengan Ibu Anita di pertengahan tahun 2021, itupun melalui grup Whatsapp sebagai media berkumpul para penggerak isu disabilitas dan juga penyandang disabilitas. Dengan berbekal itu, saya mencoba menerima permintaan Ibu Anita untuk mulai menulis buku Disablepreneur. Setelah bertemu beberapa kali secara online dengan perajin DCE untuk mendengar dan berdiskusi cerita-cerita mereka, secara pribadi, saya langsung menangkap satu hal penting: ini bukan sekadar ruang pendampingan bagi penyandang disabilitas, melainkan ruang kesempatan.

Jakarta / Senin, 09 Februari 2026

Buku Disablepreneur dirancang dan kemudian ditulis untuk mengangkat kisah-kisah para perajin penyandang disabiltas sekaligus membahas apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi entrepreneur.

Buku Disablepreneur.

Dokumentasi

Tim DCE

Di DCE, kreativitas menjadi bahasa bersama. Para perajin tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun identitas sebagai kreator dan entrepreneur. Karya-karya mereka lahir dari ketekunan, keberanian mencoba, dan semangat untuk mandiri. Dari sini, saya menyadari bahwa kewirausahaan difabel bukan tentang “mengalahkan keterbatasan”, melainkan tentang membuka akses dan ruang yang selama ini tertutup.

DCE menghadirkan ekosistem di mana penyandang disabilitas didorong untuk berkarya, berproses, dan mengambil peran sebagai pelaku ekonomi—bukan sebagai penerima bantuan.

Tidak hanya soal keterampilan teknis dan modal usaha, tetapi juga pendampingan yang konsisten, akses pelatihan yang adaptif, teknologi bantu, jejaring pemasaran, serta lingkungan sosial yang inklusif. Kewirausahaan tidak akan tumbuh dalam ruang hampa; ia membutuhkan ekosistem yang saling mendukung.

Sebagai penulis, saya melihat Disablepreneur sebagai buku yang jujur dan membumi. Buku ini tidak sekadar merayakan kesuksesan, tetapi juga mengakui proses panjang di baliknya. Ada keraguan, keterbatasan, kegagalan, dan upaya bangkit kembali. Justru di sanalah letak kekuatan cerita-cerita ini—karena dekat dengan realitas dan mudah dipahami oleh pembaca.

Buku ini juga menegaskan bahwa kesuksesan para entrepreneur penyandang disabilitas tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada peran keluarga, komunitas seperti DCE, pendamping, serta jejaring yang saling menguatkan. Disablepreneur ingin menunjukkan bahwa kewirausahaan inklusif adalah kerja kolektif, bukan perjuangan individual semata.

Saya berharap Disablepreneur dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus pembelajaran. Bagi penyandang disabilitas, buku ini diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan diri untuk memulai dan mengembangkan usaha. Bagi komunitas dan masyarakat luas, buku ini menjadi ajakan untuk melihat disabilitas dari perspektif yang lebih adil—sebagai potensi yang layak didukung. Dan bagi semua pihak, Disablepreneur adalah pengingat bahwa inklusi bukan sekadar wacana, tetapi praktik nyata yang perlu terus diperjuangkan bersama.

Artikel lain

Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan

Cerita kecil Deus Caritas Est yang terbit pada Kamis, 29 Januari 2026 di Media Indonesia.

Perjalanan Keluar dari Diri Menuju Kebebasan Memberi

Refleksi oleh Rm Jacobus Tarigan, Pr setelah menyaksikan sharing komunitas DCE.

Tergerak dan Bergerak, Berubah dan Berbuah

Refleksi oleh Suster Martina, HK setelah menghadiri perayaan 10 tahun DCE, 17 Januari 2026.