Shelly
Shelly kecil kala itu dengan bangga menunjukkan hasil coretannya kepada sang ibu. Di momen tersebutlah Shelly mulai berkenalan dengan dunia seni.


Perajin Lukis
Shelly lahir sebagai bayi yang normal (bisa mendengar) pada tahun 1992. Namun, ia terserang demam tinggi saat berusia tiga bulan yang membuatnya kehilangan pendengaran. Butuh waktu lama sampai akhirnya ia benar-benar mengerti dan bisa menerima kejadian ini. Segala usaha dari orang tuanya mengantar Shelly berobat pun tidak dapat mengembalikan pendengarannya.
Pada akhirnya, waktu tetap berjalan dan Shelly pun bertumbuh. Shelly berkuliah di sebuah kampus swasta ternama di Indonesia dengan jurusan interior design. Empat tahun berlalu. Shelly akhirnya mendapatkan gelar sarjana dan seperti kebanyakan lulusan lainnya ia langsung berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang digelutinya selama kuliah. Setelah melalui beberapa bulan tanpa hasil, Shelly memutuskan untuk banting setir dan bekerja sebagai admin finance & tax. Pengalaman Shelly selama bersekolah hingga bekerja cukup menyenangkan. Lingkungan yang suportif memegang peranan penting dalam kehidupan Shelly. Tak lupa juga berkat didikan orang tuanya, Shelly selalu berani untuk bertanya kepada pengajar maupun temannya jika ia belum mengerti tentang suatu hal.
Shelly memiliki impian untuk menjadi seorang perempuan multitalenta yang mandiri dan tetap bisa mengasuh anak seperti ibunya. Tapi tak hanya bertalenta, Shelly juga ingin memiliki penghasilan sendiri. Beruntungnya, Shelly sangat didukung oleh keluarga di sekitarnya. Suami, mertua, orang tua Shelly selalu menghargai dan memberikan dorongan yang diperlukan Shelly.
Di tahun 2021 saat pandemi, Shelly memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya yang lama dan mencoba menggali kemampuannya yang selama ini terpendam. Ia mulai mengikuti beberapa kelas lukis secara intensif. Tak hanya kelas lukis, Shelly juga pernah mengikuti kelas kerajinan resin.
"Aku merasa terlahir dua kali. Terlahir dengan kondisi normal dan dengan kondisi tuli," ucap Shelly.


Shelly pertama kali mengetahui DCE dari bapak mertuanya. Pada Juni 2024, ia bertemu dengan Ibu Anita di Taman Doa Hati Tersuci Maria, PIK 2. Ternyata setahun sebelum itu, Shelly pernah bertemu Chris yang sedang menjaga toko DCE, namun pada saat itu Shelly belum mengerti bahwa DCE adalah sebuah komunitas disabilitas.
Di DCE, Shelly menghasilkan produk-produk lukis berupa totebag dan bantal. Sekarang ini, di tengah-tengah kesibukannya mengurus anak, ia juga mulai menekuni rajut. Shelly senang bisa berkenalan dengan teman-teman disabilitas di DCE. Ia merasa teman disabilitas manapun pasti pernah merasakan lelah dan susah untuk melanjutkan hidupnya, tetapi di DCE, mereka tetap berusaha bertahan karena mempunyai impian masing-masing. Hal ini baginya menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang dan dirinya sendiri.






Proses panjang yang dilalui Shelly membentuknya menjadi seorang yang penuh kreatifitas dan pantang menyerah. Ia tidak lagi dipandang berbeda hanya karena ia merupakan seorang disabilitas. Januari yang lalu, Shelly bersama tim DCE lainnya hadir di acara Temu Pastores Dekanat Jakarta Utara dan mengadakan kelas workshop bagi 20 romo yang hadir. Berbekal pengalamannya selama ini, dengan percaya diri Shelly mengajar para romo untuk melukis. Tak disangka-sangka, apa yang dulu ia anggap sia-sia ternyata bisa berbuah di masa depan.
Dari Shelly kita belajar, tidak ada kata terlambat dan tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk digapai.
Deo Caritas Eterna
Melalui berbagai program pemberdayaan dan karya kreatif, Yayasan Deo Caritas Eterna berupaya membuka ruang lebih luas bagi para penyandang disabilitas untuk tumbuh, berkarya, dan hidup mandiri dengan penuh martabat sebagai wujud dari cinta yang memberi harapan.
© 2025 Deo Caritas Eterna. All rights reserved.
Temukan Produk Kami di Toko Offline
Media Sosial
Hubungi Kami
