Shasa
Gelsa Gernika atau yang akrab dipanggil Shasa lahir pada tahun 1994 di Jakarta. Sejak lahir, Shasa tidak bisa mendengar. Sejak dulu, Shasa dengan tekun mencoba berbagai pekerjaan, mulai dari menjahit hingga menjadi seorang customer service.


Perajin Aksesori
Namun Shasa hanya terdiam. Tanpa respons sedikit pun.
Kekhawatiran pun muncul, hingga akhirnya Shasa diperiksa. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia tidak dapat mendengar. Orang tuanya tidak menyerah. Mereka berusaha mencari jalan terbaik agar ia tetap bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Saat usianya menginjak empat tahun, mereka mulai mencari sekolah yang sesuai, hingga akhirnya menemukan SLB B Pangudi Luhur.
Shasa mendapatkan bimbingan oleh guru wicara yang dengan ketekunannya, berjasa membuat Shasa mengenali kata, membaca gerak bibir, dan melatih kemampuan berbicara. Seiring waktu, kemampuannya berkembang. Kini, ia mampu berkomunikasi secara oral dan memahami apa yang orang lain katakan.


Dengan keterbatasannya, Shasa tetap bersemangat menjalani hidup. Ia merupakan seseorang yang berani mencoba berbagai hal baru. Kecintaannya pada kerajinan tangan membawanya bekerja sebagai penjahit payet di sebuah butik. Ia juga pernah bekerja sebagai customer service sebuah toko online. Banyak tantangan yang dihadapinya dalam berkomunikasi dengan customer. Terkadang ia sampai harus meminta tolong rekan kerjanya untuk membantunya. Shasa juga pernah membantu di bagian controller dan packing. Dengan bekerja, Shasa dapat menghidupi dirinya sendiri hingga akhirnya ia menikah dengan seorang pria Tuli bernama Chris yang juga merupakan perajin aksesori DCE.
Di tahun 2024, Shasa dan Chris menerima sebuah kabar gembira. Shasa hamil! Namun, ternyata Tuhan memiliki rencana lain, Shasa mengalami keguguran. Di tahun yang sama, kontrak kerja Shasa habis sehingga ia harus berhenti dari pekerjaannya itu. Menghadapi semua hal ini, daripada berkabung dalam kesedihan dan penyesalan, Shasa memilih untuk mencoba mencari kesibukan dengan meminta Chris mengajarkannya membuat rosario. Ketika akhirnya Shasa sudah mulai mahir, ia direkrut oleh DCE dan hingga sekarang banyak karya Shasa yang dibeli oleh pelanggan DCE. Shasa tidak berhenti pada membuat rosario, ia juga belajar merajut, yang meskipun menurutnya sulit, masih terus ingin dipelajarinya.
Pada akhirnya, bukan kondisi yang menentukan arah perjalanan, melainkan keberanian untuk tetap bergerak. Meski pelan, meski penuh tantangan, selalu ada pilihan untuk terus maju dan bertumbuh.
Suatu ketika saat Shasa masih kecil sekali, orang tuanya mencoba menutup pintu dengan keras.
Shasa adalah contoh konkret bagi siapa saja untuk tidak takut mencoba hal-hal baru. Bagaimanapun juga, hidup akan terus berjalan. Ia tidak berhenti hanya karena keadaan yang kita alami. Dalam setiap langkahnya, hidup mengalir tanpa menunggu kita siap atau tidak. Kitalah yang perlahan belajar menyesuaikan diri, menguatkan hati, dan memilih untuk terus melangkah.
Karya Pengrajin 1
Use this space to introduce yourself or your business to site visitors. Share who you are, what you do, and the purpose of this website.
suara dari hati yang tak pernah menyerah.
Apolla telah membuktikan, bahwa dalam kesunyian sekalipun, ada suara yang lebih nyaring dari kata-kata:
Deo Caritas Eterna
Melalui berbagai program pemberdayaan dan karya kreatif, Yayasan Deo Caritas Eterna berupaya membuka ruang lebih luas bagi para penyandang disabilitas untuk tumbuh, berkarya, dan hidup mandiri dengan penuh martabat sebagai wujud dari cinta yang memberi harapan.
© 2025 Deo Caritas Eterna. All rights reserved.
Temukan Produk Kami di Toko Offline
Media Sosial
Hubungi Kami
