Rinda

Rinda adalah seorang sosok yang kuat dan pantang menyerah. Siapa sangka bahwa teman tuli bisa bekerja sebagai admin yang membutuhkan koordinasi dengan banyak orang? Tekadnya yang besar dan motivasi dari keluarganya lah yang membuatnya terus bertahan hingga di titik sekarang ini.

Perajin Rajut

Tak ingin menyerah pada keadaan, Rinda bertekad untuk membuktikan dirinya kepada dunia. Ia tidak mau menjadi orang yang tertindas dan dikasihani. Berbekal dukungan dari ibunya yang hebat,

Rinda mengenal DCE dari kakak kelasnya ketika bersekolah di SDLB, Sharly. Rinda memang hobi merajut dan Sharly mengetahuinya dari postingan Instagram Rinda. Sharly pun menawarkan Rinda untuk bergabung dengan tim rajutnya di DCE. Rinda awalnya cukup khawatir, melihat teman-teman tim rajut yang mayoritas beragama Kristen dan Katolik, ia jadi ragu. Namun, setelah diberi pengertian bahwa DCE terbuka bagi teman disabilitas dari latar belakang apa saja, ia menjadi percaya diri dan ingin mencoba untuk keluar dari zona nyamannya.

Terinspirasi dari Rinda, maukah kita ikut menata langkah, merapikan luka, dan bertumbuh menjadi diri yang lebih baik dari hari kemarin?

Ketika berumur 10 bulan, Rinda kecil mengalami kejang-kejang yang membuatnya kehilangan indra pendengarannya. Ia sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Luar Biasa, namun pindah ke sekolah umum ketika memasuki kelas 4 SD. Sungguh berat, Rinda pernah dirundung (bully) baik secara verbal maupun fisik. Rinda juga seringkali mengalami kesulitan dalam belajar karena para guru belum mengerti akan kebutuhannya. Misalnya ketika ujian, soal bukan dituliskan atau dibagikan kepada murid, tetapi didikte secara lisan oleh guru. Meskipun Rinda diminta untuk duduk di depan agar bisa membaca gerak bibir, hal ini tetap terasa sangat sulit.

Ia menjadi semakin giat belajar yang berbuah dengan manis. Ia berhasil diterima di salah satu universitas negeri ternama lewat jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi yang didasarkan pada prestasi akademik tanpa tes (PMDK). Namun, akibat keterbatasan akses yang disediakan, ia hanya bertahan selama 1 tahun di universitas tersebut. Rinda akhirnya pindah universitas dan menyelesaikan jenjang pendidikan S1 dengan jurusan Sistem Informasi. Setelah lulus kuliah, Rinda pernah bekerja sebagai programmer, membantu usaha keluarga, dan sebagai admin purchasing. Sekarang, ia bekerja di sebuah Florist sebagai admin operasional dan purchasing. Tidak mudah memang, ia sering ketinggalan informasi. Mengandalkan gerak bibir, ada beberapa orang yang menolak untuk melepas masker dan langsung pergi meninggalkan Rinda ketika ia masih belum paham dengan apa yang dibicarakan.

Kini, ia bisa menghasilkan penghasilan tambahan dari hasil kerajinan tangannya di DCE. Ia makin mahir merajut dan sudah bisa merajut berbagai macam amigurumi. Rinda berharap agar DCE tetap menjadi wadah yang berkembang dan konsisten untuk dapat memberikan ruang bagi teman-teman disabilitas untuk mengembangkan rasa percaya diri dan menjadi versi diri mereka yang lebih baik.

Rinda mulai belajar untuk mengubah pola pikirnya. Ia menjadi semakin terbuka dan berusaha menerima kekurangan dirinya. Ia ingin keadaan berubah dan ia tahu, bahwa perubahan pertama-tama hanya bisa dilakukan olehnya sendiri.

Yayasan Deo Caritas Eterna

Berada dalam naungan Yayasan Deo Caritas Eterna, Deus Caritas Est menjadi wujud nyata gerakan pemberdayaan melalui karya kreatif. Yayasan ini terus berupaya membuka akses dan peluang yang lebih luas, agar para penyandang disabilitas dapat bertumbuh, berkarya, dan menjalani kehidupan yang mandiri serta bermartabat.

© 2025 Deo Caritas Eterna. All rights reserved.

Temukan Produk Kami di Toko Offline

Media Sosial

Hubungi Kami