Rachel

Rachel didiagnosa menderita Retinitis Pigmentosa pada usia 6 tahun. Dunianya yang selama ini penuh dengan cahaya dan warna, seketika berubah menjadi remang-remang, lalu meredup, hingga hampir padam.

Perajin Aksesori

Pengalaman ini membawa Rachel bermimpi lebih tinggi. Ia ingin mandiri. Ia ingin bisa. Rachel akhirnya memutuskan untuk merantau sendirian dan berkuliah di Jakarta. Rachel mulai menjadi semakin akrab dengan komputer bicara dan ia pun mulai menulis. Apa pun yang ia rasakan atau alami, ia bagikan kepada dunia lewat sebuah blog pribadi. Remang-remang namanya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya,

Sejak buku itu terbit, Rachel sering diundang untuk berbagi cerita dan motivasi. Dari satu seminar ke seminar lain, hingga akhirnya saya bertemu seorang motivator yang mengajak saya bergabung menjadi trainer. Saya pun mulai memberikan pelatihan motivasi kepada para karyawan perusahaan. Selain itu, saya juga pernah bekerja sebagai resepsionis, lalu dipercaya masuk ke bagian HRD training dan rekrutmen. Sebuah perjalanan yang dulu terasa mustahil.

Retinitis pigmentosa menyerang retina yang memiliki sel untuk menangkap cahaya sehingga memungkinkan manusia untuk melihat. Tumbuh dan berkembang di sekolah umum, Rachel yang memiliki kondisi ini seringkali merasa minder dan sendirian. Seringkali ia bertanya-tanya, mengapa hal ini harus terjadi padanya? Pada akhirnya Rachel pindah ke sebuah sekolah luar biasa (SLB) ketika memasuki jenjang sekolah menengah atas. Bertemu dengan teman-teman yang juga berkebutuhan khusus, Rachel seolah memasuki sebuah dunia yang selama ini dia cari-cari, dunia yang memahami dirinya. Di sekolah ini ia bertemu dengan banyak teman tunanetra yang percaya diri, mandiri, dan penuh semangat. Sungguh luar biasa! Kenyataan ini membakar sesuatu dalam diri Rachel, ia belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang, tetapi justru menjadi bahan bakar untuk melaju lebih jauh.

Rachel sekarang sudah menikah dan memiliki satu anak. Perannya bertambah, begitu juga dengan semangatnya. Tidak berhenti dengan menjadi trainer saja, Rachel juga mencoba berkreasi di bidang lain. Rachel membuat chicken nugget dan cookies untuk menambah penghasilan. Selain itu, ia juga mulai belajar membuat kerajinan tangan. Awalnya ia merangkai rosario. Lalu kemudian ia tertantang untuk merajut. Sempat terlintas di pikirannya, “Mana mungkin tunanetra bisa merajut?” Tapi ternyata, dengan kesabaran dan ketekunan, ia mampu melakukannya.

Rachel tergabung di kelompok Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ). Dari sanalah ia bertemu dengan Ibu Anita. Sungguh bukan sebuah kebetulan, Rachel membawa rosario buatannya ketika berjumpa dengan Ibu Anita pertama kali. Ternyata beliau menyukainya, bahkan langsung memesan 30 buah untuk dijual di sana. Rasanya luar biasa bahagia. Kata teman-teman LDD-KAJ, beliau sangat teliti. Jika karya kita diterima, artinya kualitasnya memang layak. Perjalanan tidak selalu mulus. Ada kalanya beberapa produk Rachel dikembalikan karena dianggap belum memenuhi standar. Tapi justru dari situlah ia belajar untuk lebih teliti dan lebih menghargai karya sendiri. Ibu Anita pernah berkata kepada saya, “Kalau kamu ingin dihargai, maka hargailah dirimu sendiri. Salah satunya lewat hasil karyamu. Karena pada akhirnya, karya kitalah yang berbicara.” Rachel dibantu suaminya untuk memilih warna manik-manik. Selebihnya, ia mengerjakannya sendiri. Karya Rachel sudah banyak terjual dan digemari oleh pelanggan DCE.

Perjalanan Rachel bukanlah sesuatu yang mudah. Sungguh hebat melihat kehidupannya yang penuh dengan kejutan dan hal-hal yang tidak pernah diimpikan sebelumnya menjadi terwujud. Hanya penglihatan Rachel sajalah yang remang-remang, kehidupannya saat ini penuh dengan cahaya dan pengharapan.

"Saya memang tidak bisa melihat dengan mata. Tapi saya belajar melihat dengan hati, dengan keyakinan, dan dengan keberanian untuk terus mencoba. Dan dari situlah saya tahu, hidup bukan tentang apa yang hilang, melainkan tentang apa yang masih bisa kita perjuangkan."

dari blog sederhana itulah lahir buku pertama Rachel berjudul Aku Buta Tapi Melihat, yang kemudian terbit kembali dengan judul Aku Tidak Buta.

Karya Meylan

Use this space to introduce yourself or your business to site visitors. Share who you are, what you do, and the purpose of this website.

black blue and yellow textile
black blue and yellow textile
a man riding a skateboard down the side of a ramp
a man riding a skateboard down the side of a ramp
a man riding a skateboard down a street next to tall buildings
a man riding a skateboard down a street next to tall buildings