Priscilia LSW
Akrab disapa Pris, perajin rajut asal Bandung ini memiliki banyak talenta. Pris kehilangan pendengaran sejak lahir karena syaraf pendengaran yang tidak berkembang sempurna. Meskipun begitu, karya Tuhan atas Pris begitu besar sehingga ia mampu mengembangkan talenta-talenta yang dimilikinya.


Perajin Rajut
Di tahun 2014, Pris menikah dengan seorang pria Tunarungu. Bersama suaminya, ia ikut merantau dan bekerja di Jakarta. Ketika dalam masa peralihan, Pris yang belum mendapatkan pekerjaan mencoba untuk menjual kue kering buatannya. Usaha kecil ini diberi nama La Pris. Hasil penjualannya lumayan dan Pris sering membuka pre-order kue kering untuk hari-hari raya, seperti imlek, natal, dan juga lebaran. La Pris berjalan selama tiga tahun, lalu sempat terhenti karena Pris bekerja kantoran sebagai admin akuntansi, dan kembali dijalankan pada tahun 2024 ketika Pris berhenti dari pekerjaannya tersebut.
Akibat kondisi ekonomi yang sedang lesu, suami Pris mengalami pemutusan hubungan kerja di tahun 2024. Saat itu Pris iseng mengisi waktu luangnya dengan belajar merajut. Tak disangka-sangka, seorang teman mengajaknya untuk bekerja sama merajut. Nama temannya adalah Sharly, yang juga merupakan perajin rajut DCE. Awalnya, Pris diajar Sharly merajut bunga dan daun. Karena cepat belajar dan hasilnya cukup memuaskan, akhirnya Pris direkrut untuk ikut bergabung bersama di DCE. Sejak kecil, ternyata Pris sudah bisa merajut bentuk-bentuk sederhana. Kemampuan merajutnya di DCE berkembang pesat, dari yang awalnya hanya bisa merajut bentuk 2D (flat) hingga merajut bentuk 3D.
Pris sangat senang dapat bergabung dengan DCE, selain ilmu rajutannya menjadi bertambah, ia juga bisa berkenalan dengan teman-teman penyandang disabilitas lainnya. Tidak hanya Teman Tuli, ia juga bisa berkomunikasi dan bertukar cerita dengan para penyandang disabilitas tuna daksa, tuna netra, dan lainnya.
Kepercayaan dirinya pun makin meningkat melihat karya teman-temannya begitu diapresiasi dan dirayakan di DCE.


Priscilia pertama kali mengenyam pendidikan di sebuah sekolah luar biasa (SLB-B) di Wonosobo. Di situ, ia mampu mengikuti pelajaran dengan sangat baik sehingga ia akhirnya pindah ke sekolah biasa pada saat SD hingga SMA. Kehidupan sekolah yang cukup berat, membuat Pris hampir putus asa dan bahkan ingin berhenti sekolah. Namun ibu Pris, atau yang ia panggil dengan mami, terus memberinya dukungan dan memotivasinya sehingga akhirnya ia bisa lulus pendidikan SMA. Pris lalu mengambil kursus akuntansi selama 6 bulan. Kerja kerasnya membuahkan hasil, ia diterima sebagai anak magang dan resmi bekerja kantoran di sebuah perusahaan di Bandung.


Pris dapat berdiri hari ini menjadi seorang disabilitas yang berdaya bukanlah sebuah pencapaian yang mudah. Segala jatuh bangun yang telah dirasakannya patut dibanggakan. Pris percaya bahwa kunci dari kekuatannya selama ini adalah terus memberikan yang terbaik dari apa yang kita punya maka Tuhan sendirilah yang akan mengubah semua usaha kita menjadi karya yang indah dan luar biasa. Penyandang disabilitas bukanlah produk gagal, karena Tuhan menciptakan manusia dengan tujuannya masing-masing dan Dialah yang memberikan kekuatan bagi setiap orang untuk mengarungi setiap tantangan kehidupan ini. Salah satu ayat pegangan Pris berasal dari Yeremia 29:11 (TB):
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."
Karya Meylan
Use this space to introduce yourself or your business to site visitors. Share who you are, what you do, and the purpose of this website.
Deo Caritas Eterna
Melalui berbagai program pemberdayaan dan karya kreatif, Yayasan Deo Caritas Eterna berupaya membuka ruang lebih luas bagi para penyandang disabilitas untuk tumbuh, berkarya, dan hidup mandiri dengan penuh martabat sebagai wujud dari cinta yang memberi harapan.
© 2025 Deo Caritas Eterna. All rights reserved.
Temukan Produk Kami di Toko Offline
Media Sosial
Hubungi Kami
