Lina
Natalina H. Butarbutar atau yang bisa dipanggil Lina, juga kehilangan pendengarannya akibat demam tinggi seperti Apolla. Bedanya, hal ini terjadi saat Lina berumur satu tahun. Kala itu Lina juga menderita sakit campak. Demam tinggi hingga 40 derajat Celcius kala itu membuat Lina harus menginap di rumah sakit hingga sepuluh hari lamanya.


Perajin Rajut


“Akhirnya, dokter memutuskan untuk merendam saya dalam air es dan saat itulah muncul bintik-bintik merah dan panasnya berangsur turun,” kenang Lina. “Namun, sejak saat itu, saya tidak lagi bisa mendengar," lanjutnya.
Sepanjang hidupnya, Lina tinggal bersama sang ibu dan kedua kakaknya yang juga Tuli. Kehidupannya pun banyak dibantu oleh tabungan pensiun ibunya. Lina begitu ingin bekerja. Namun, begitu sulit baginya untuk mencari pekerjaan.
Sebelum bergabung dengan DCE, Lina sebetulnya sempat merasakan kerja profesional beberapa kali. Mulai dari dirinya yang pernah kerja di salon hingga menjadi staf administrasi di sebuah sekolah luar biasa (SLB). Namun, ia akhirnya meninggalkan pekerjaannya saat ia memutuskan untuk menikah. Dari pernikahannya, ia pindah ke Surabaya dan dikaruniai seorang anak perempuan.
Sayangnya, umur pernikahannya tidaklah abadi. Ia berpisah dengan suaminya dan menjadi ibu tunggal. Kehidupan harus terus berjalan… ia kembali ke Jakarta setelahnya dan kembali tinggal bersama ibu dan sang kakak. “Kehidupan kami ditopang oleh uang pensiun mama," ceritanya. Ingin sekali rasanya Lina kembali bekerja profesional. Namun, kesempatannya semakin sulit.
"Di sini, saya bisa belajar banyak keterampilan dan didukung untuk terus berkreasi. Saya merasa dihargai dan bersemangat setiap kali bekerja," kata Lina dengan bersemangat.
Suatu hari ia melihat adanya pelatihan membuat rosario yang diadakan oleh LDD. Senang rasanya Lina melakukan kegiatan itu. Hasil yang ia buat juga terbilang bagus dan berpotensi. Anita akhirnya mengajak Lina untuk bergabung dengan DCE. Lina pun segera menjadi anggota kedua setelah Apolla yang bergabung dengan DCE. Bahkan saat itu, DCE belum resmi didirikan.
Lina dan Apolla pun dengan cepat mudah berbaur. Kemampuan Lina pun semakin bertambah. Ia kini lihai juga dalam membuat sebuah tas belanja jahit. Ia biasanya mengerjakan pesanan-pesanan sambil menonton drama Korea atau Thailand. "Sering kali, saya kewalahan dengan pesanan yang banyak sehingga waktu untuk menonton drama Korea kesukaan saya berkurang," ceritanya sambil tersenyum.
Maka dari itu, mengerjakan pesanan sambil menonton adalah solusi jitunya. Walaupun begitu, ia sangat bersyukur dan tidak pernah terlintas rasa bosan dalam dirinya di kala mengerjakan pesanan tas dan rosario.
Ia terus berharap supaya pesanan rosario-nya semakin banyak. Terlebih, harapan itu didasarkan pula oleh niatnya untuk lebih sejahtera. Ia juga ingin lebih banyak teman-teman disabilitas lainnya untuk lebih berkembang dan sejahtera. Tak hanya itu, besar harapan Lina untuk dapat menyekolahkan putrinya setinggi mungkin. Ia ingin anaknya bisa hidup mandiri.
Karya Wati
Use this space to introduce yourself or your business to site visitors. Share who you are, what you do, and the purpose of this website.
Segala permasalahan hidupnya, tidak ia jadikan halangan untuk tetap berharap. Harapan itu pun ia jalankan berbarengan dengan usaha baik yang ia kerjakan.
Lina tetap berkarya sepenuh hatinya dengan terus semangat dan tulus.
Deo Caritas Eterna
Melalui berbagai program pemberdayaan dan karya kreatif, Yayasan Deo Caritas Eterna berupaya membuka ruang lebih luas bagi para penyandang disabilitas untuk tumbuh, berkarya, dan hidup mandiri dengan penuh martabat sebagai wujud dari cinta yang memberi harapan.
© 2025 Deo Caritas Eterna. All rights reserved.
Temukan Produk Kami di Toko Offline
Media Sosial
Hubungi Kami
