Eva

Lahir di Jakarta pada 1997, Eva mengalami demam tinggi yang menyebabkannya kehilangan indra pendengarannya. Menjadi penjaga toko, content creator, dan perajin rosario di DCE menjadi bukti Eva yang tidak tinggal diam di tempat karena keterbatasannya. Ia terus mewarnai kehidupannya dengan menjadi sosok yang ceria dan penuh keingintahuan.

Perajin Aksesori

Orang tua Eva sempat kaget, mendengar diagnosa bahwa putri mereka tidak bisa lagi mendengar. Namun, dengan penuh kasih sayang mereka tetap merawat Eva kecil hingga akhirnya perlahan mereka membentuk sebuah cara komunikasi khusus di antara mereka. Ketika memasuki usia bersekolah, Eva disekolahkan di sebuah Sekolah Luar Biasa di mana Eva belajar membaca dan berbicara secara oral tanpa bahasa isyarat. Latihan ini dilakukan dengan cara membaca gerakan bibir orang yang berbicara. Eva lalu melanjutkan pendidikannya di sebuah SMK Jakarta Barat dan mengambil jurusan Akuntansi dan Manajemen. Bersekolah di tempat yang mayoritas anggotanya adalah non-disabilitas, Eva mengalami kesulitan berkomunikasi. Guru-gurunya berbicara terlalu cepat, membuat Eva kesulitan membaca gerak bibir mereka. Ia hampir putus asa, tetapi keingintahuannya lebih besar. Ia terus berusaha belajar dan bertanya kepada teman-teman sekelasnya ketika ia tidak mengerti tentang sesuatu. Kerja keras Eva membuahkan hasil. Ia berhasil lulus dari SMK pada tahun 2017. Tidak hanya itu, ia bahkan sempat mendapatkan kesempatan untuk mengikuti magang di sebuah perusahaan di Jakarta Pusat.

Perjuangan belum selesai. Setelah lulus, Eva mencoba melamar pekerjaan di bidang Akuntansi di banyak tempat. Namun, ia tidak kunjung mendapat jawaban selama enam bulan. Di saat-saat yang cukup sulit itu, Eva mendapatkan informasi lowongan magang khusus disabilitas di Carrefour. Selama delapan bulan, Eva bekerja di sana dengan penuh semangat. Sayang sekali, ketika magang selesai, kontraknya tidak diperpanjang dan ia harus menghadapi hari-hari menganggur itu lagi. Eva lalu ditawari untuk bekerja sebagai sales marketing dan administrasi kurir oleh teman ibunya. Meskipun tidak sesuai dengan jurusannya, ia tetap mengambil pekerjaan itu dan bekerja selama satu tahun. Ia lalu harus berhenti karena lokasi tempat kerja dan rumahnya cukup jauh. Setelah itu, Eva pernah bekerja di sebuah bank, namun di sana ia hanya diminta untuk mengerjakan input data yang berulang sehingga ia merasa tidak berkembang. Di tahun 2020, Eva terkena PHK karena pandemi Covid-19. Untuk mengisi waktu yang tiba-tiba luang, Eva memutuskan untuk melayani di komunitas Tuli Katolik. Pengalaman Eva di sana sungguh membuka peluang baru baginya. Ia pernah menjadi sekretaris panitia Asia Deaf Catholic Conference di mana ia harus mengurus berbagai surat dan kegiatan. Meskipun sempat jatuh sakit, ia tetap melayani 150 peserta Tuli dari berbagai penjuru di Asia.

Dari sanalah Eva kemudian ditawari untuk menjadi guru bahasa isyarat untuk umat Paroki Kosambi Baru. Ia lalu mengajar di Gereja Katolik St. Matias Rasul dan Paroki Kalideres selama kurang lebih dua tahun. Ketika itu, ia juga berusaha menekuni sebuah usaha aksesori manik-manik. Kurangnya peminat membuat Eva hampir menyerah hingga akhirnya Romo Edi memperkenalkannya kepada Ibu Anita pada Januari 2024.

"Saya merasa beban yang berat berubah menjadi sukacita."

Pertemuan awal Eva dengan Ibu Anita berlokasi di toko DCE di PIK 2. Eva waktu itu sangat takut karena ia harus naik motor dengan jarak yang jauh. Pertemuan itu ternyata berjalan dengan cukup baik, setelah wawancara dengan Ibu Anita, Eva langsung diminta bekerja pada bulan berikutnya. Eva mulai belajar membuat rosario dengan paku yang membuat tangannya sangat sakit. Tidak butuh waktu lama, dalam dua minggu Eva sudah mahir membuat rosario. Eva lalu belajar memotret produk dan membuat konten. Ternyata sulit sekali! Ia sering bingung dan bahkan menangis diam-diam karena hasilnya kurang memuaskan. Nasihat yang diberikan Ibu Anita terkadang menyakiti hati kecilnya, namun akhirnya ia sadar bahwa ini semua demi membentuk karakternya dan menempa kemampuannya menjadi lebih baik lagi. Ibu Anita menginginkan hasil yang profesional dan beliau mempunyai standar yang tinggi. Eva menjadi bersyukur bisa bekerja dengan Ibu Anita yang mau membimbing dan peduli padanya.

“Jika ada orang baik yang menasihati kita, terimalah mengubah dan perbaiki karakter menjadi lebih baik. Bukan karena mereka tidak suka, tetapi karena mereka peduli.”

Sekarang, setelah dua tahun bekerja di DCE, Eva masih terus belajar. Bukan hanya belajar keterampilan, ia belajar untuk mengasihi dan melayani dengan hati yang lebih baik. Berkat kesempatan bekerja di DCE, Eva mampu melunasi cicilan motor selama 22 bulan. Menurut Eva, Deus Caritas Est bukan hanya tempat bekerja, tetapi tempat ia bertumbuh. Kini Eva diberi kepercayaan untuk menjaga toko DCE, baik yang di Taman Doa Hati Tersuci Maria maupun di toko rohani Taman Doa Lady of Akita, dan terus membuat rosario. Ia bekerja dengan penuh sukacita menyambut pelanggan yang datang di toko DCE dan merangkai rosario yang indah.