Alamwati

Wati, perempuan kelahiran 1968 ini terlahir dengan kondisi tidak bisa mendengar dan berbicara. “Ketika saya lahir, hampir tidak ada suara tangisan yang keluar,” ingatnya. Wati akhirnya disekolahkan di SLB/B Cicendo, Bandung. Di sana, Wati menguasai beberapa keterampilan yaitu menjahit dan menyulam. Sayangnya, ia hanya menempuh pendidikan hingga kelas tiga SD karena keterbatasan ekonomi.

Semua ini ia kerahkan karena ia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Wati juga ingin mandiri dan bisa memberi uang saku kepada mereka.

Sebelum bertemu DCE, Wati sempat mengasah kemampuannya itu di beberapa tempat. Ia pernah mengikuti kursus menjahit. Bahkan hingga bekerja sebagai buruh pabrik konveksi pernah ia coba. Selama lima tahun lamanya, ia juga pernah bekerja sebagai penjahit kaos di daerah Tangerang.

Pada 2017, Wati diperkenalkan dengan Anita yang kala itu aktif di LDD. Namun, baru pada 2019 akhirnya Wati bergabung dengan DCE. Dengan gabungnya ia di DCE, membuat Wati semakin bersemangat dalam berkarya. Ia merasa termotivasi oleh semangat para teman disabilitas yang lain.

Boneka rajutan kelinci dan boneka Fatima karyanya bahkan menjadi favorit pembeli. Satu hal yang membuatnya juga bersyukur dan senang adalah ketika Anita serta pembeli menghargai karya-karyanya, juga teman-teman lainnya. Ia begitu merasa dilihat. Dan ia berterima kasih untuk anugerah ini.

Karya Wati

Use this space to introduce yourself or your business to site visitors. Share who you are, what you do, and the purpose of this website.

black blue and yellow textile
black blue and yellow textile
a man riding a skateboard down the side of a ramp
a man riding a skateboard down the side of a ramp
a man riding a skateboard down a street next to tall buildings
a man riding a skateboard down a street next to tall buildings

“Teman-teman sesama perajin sangat baik, kami saling bantu dan bekerja sama,"